Home / Tak Berkategori / Bijak Menyikapi Perbedaan

Bijak Menyikapi Perbedaan

 
Sejak kecil kebanyakan kita telah di ajarkan untuk tidak menerima pemberian dari orang yang tidak di kenal. Untuk menolak ajakan orang asing. Lalu kita mengajarkan hal serupa pada anak-anak kita.
Di sadari atau tidak, kita telah menanamkan dalam diri kita masing-masing bahwa: orang yang berbeda dengan kita adalah SALAH. Orang yang makan pizza salah, karena kita makan nasi. Orang yang matanya biru salah, karena mata kita hitam. Orang yang bicara terus terang salah, karena kita lebih suka bergunjing di belakang di bandingkan memegang teguh prinsip konfirmasi. Jadi kalau ada orang yang bicara terus terang kita akan marah dan balik memfitnahnya.
 
Ayolah…! Kita resapi lebih dalam tujuan Sang Maha Pencipta dalam menganekaragamkan bentuk ciptaan-NYA. Kita semua memang di ciptakan berlainan satu sama lain. Bahkan yang kembar identik pun pasti memiliki perbedaan.
 
Bukan untuk di debatkan. Bukan agar satu kelompok merasa lebih mulia dari kelompok lain. Bukan pula agar kita berlomba-lomba meraih kekuasaan dengan cara memutus peluang orang-orang yang ‘berbeda’ dengan kita, baik secara fisik, kekayaan, ras, atau pola pikir.
           
Kita semua di ciptakan dengan sangat spesial. Berbeda satu sama lain. Agar kita dapat saling mengenal. Agar timbul kasih sayang. Agar individu yang satu dapat melengkapi kekurangan yang lain. Agar tercipta ekosistem yang sempurna.
            
Jadi kenapa masih saja ada di antara kita yang menghina orang yang logat bicaranya berbeda, cara jalannya berbeda, makanannya berbeda. Bukankah semua itu adalah bukan sesuatu yang penting? Perbedaan seperti itu bukanlah hal yang dapat menyebabkan bencana alam. Selama tiap individu saling menghargai, perbedaan-perbedaan kecil tidak layak di jadikan alasan untuk mengibarkan bendera perang.
            
Mari sama-sama kita lebih bijak menghadapi perbedaan. Sapalah orang asing yang baru pindah ke kota kita. Bantulah ia menjalani kehidupan di kota baru yang pasti sangat berbeda dengan kota kelahirannya. Jangan di gunjingkan, jangan di hina, jangan merasa kita lebih mulia karena orang pribumi, dan jangan pula memuliakannya secara berlebihan karena perbedaannya.
            
Kita akan menyadari betapa sulitnya tinggal di lingkungan yang berbeda ketika kitalah yang menjadi orang baru di tempat lain. Saat itu kita pasti akan senang sekali bila masyarakat di lingkungan tersebut membantu kita. Tetap menghargai eksistensi diri kita, tanpa menuntut diri kita untuk berubah seperti mereka.
            
Walaupun pepatah “di mana bumi di pijak, di situ langit di junjung” harus di terapkan. Sebaiknya kita bijak memilah mana hal yang perlu di samakan dan mana hal yang lebih baik di biarkan tetap berbeda,
            
Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.

 

About Maya Nirmala Sari

Citizen Journalist. Gemar belajar dan mencoba hal baru. Mencintai bumi dan buah-buahan. Founder Komunitas Kuliner Solo (KuLo). Owner Galeri Craft @Maenequeen

Check Also

Siapkah Kita Hidup Tanpa Kaki dan Lengan?

Nick Vujicic menyelam tanpa kaki dan lengan via nojoto.com Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu terjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
Lewat ke baris perkakas