Menyeruput Uniknya Cita Rasa Kopi Papua

Aroma floral yang khas menguar dari secangkir kopi Wamena Papua di atas meja. Tak sabar aku menyesapnya, menikmati rasa yang lembut dan semburat manis yang menyapa lidah. Membayangkan seseorang di masa lalu yang kini berada ribuan kilometer jauhnya. Kopi dan rindu, tiba-tiba aku ingin menulis sebait lagu.

Lamunanku terbang, menyusulmu mengembara di tanah Papua. Teringat ceritamu tentang indahnya pesona alam Papua. “Papua berdaya, Papua itu Indonesia!” katamu. Iya, tentu saja aku tahu. Tapi menyimak cerita tentang Papua seolah bagai candu. Aku selalu penasaran dengan pantainya, gunungnya, lembahnya, dengan aneka tanamannya, dan dengan hutan Papua. Papua tentu sangat berbeda!

Aku ingin ke Papua menyusulmu. Berangkat pagi-pagi ke kebun kopi. Menghalau udara dingin di ketinggian 2000 meter dari permukaan laut. Di sanalah aku ingin melihat langsung bagaimana salah satu varietas kopi terbaik di dunia diproses. Kopi Papua memiliki cita rasa yang unik yang berbeda dengan kopi dari daerah lain. Aku ingin menikmati ekowisata di kebun kopi Papua.

(Foto: Stefanus Tarsi, Kumparan.com)
(Foto: Stefanus Tarsi, Kumparan.com)

Rahasia Keunikkan Cita Rasa Kopi Papua

Sebagai destinasi wisata hijau di Indonesia, Papua memiliki hamparan hutan dan perkebunan yang sangat menarik untuk dieksplorasi. Salah satu yang berhasil mencuri perhatianku adalah kebun kopi. Apa rahasia dibalik cita rasa kopi Papua yang terkenal sampai ke mancanegara itu?

Aroma kopi dipengaruhi oleh ketinggian tempat tanaman kopi di tanam. Semakin tinggi tempat tanaman kopi tumbuh, maka akan semakin tajam aromanya. Rata-rata perkebunan kopi di Papua berada di ketinggian 1600 sampai 2600 mdpl. Maka tidak heran jika kopi Tiom dan Kopi Wamena di Papua memiliki aroma khas tersendiri karena berasal dari perkebunan kopi di pegunungan tengah Papua. Tanah di area ini juga berbatu kerikil dengan kadar air yang cukup tinggi. Dalam proses penanaman pohon kopi pun tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sehingga lebih alami.

Karakter dan aroma dari kopi juga ditentukan oleh proses pengolahan pasca panen. Para petani kopi di pegunungan Papua (Wamena) menjaga kualitas cita rasa kopi mulai dari perawatan sampai setelah panen. Ketika panen, yang diambil hanyalah kopi yang sudah benar-benar matang, yaitu kopi yang kulitnya sudah berwarna merah. Setelah itu, kopi masih akan diperiksa kematangannya dengan cara direndam dalam air. Jika biji kopi tenggelam, maka biji kopi terseut sudah benar-benar matang. Sedangkan biji kopi yang terapung biasanya akan dipisahkan dan tidak dijual.

Biji kopi pilihan yang sudah benar-benar matang akan dikupas menggunakan mesin tradisional yang disebut “luwak”. Kemudian biji kopi yang masih berselimut getah tersebut akan disimpan selama 24 jam. Setelah penyimpanan, biji kopi akan dijemur untuk dikeringkan sampai kandungan airnya kisaran 12-13 persen saja. Kemudian biji kopi masih akan disortir lagi sebelum dikemas. Jadi, kualitas biji kopi Papua ini benar-benar dijaga untuk menjamin cita arasa kopi sampai kepada para penikmatnya.

(Foto: Stefanus Tarsi, Kumparan.com)
(Foto: Stefanus Tarsi, Kumparan.com)

Jenis-jenis Kopi Papua

Ada dua jenis kopi yang sangat terkenal dari Papua. Salah satunya adalah kopi favoritku. Ketika menyesap kopi Papua, rasanya aku seperti berada di pegunungan dengan hamparan kebun kopi. Iya, seliar itu fantasiku ketika menikmati kopi. Walaupun di sini aku bisa menikmati kopi Papua, tapi aku tetap ingin melihat proses pembuatannya secara langsung bersamamu.

1. Kopi Wamena (Baliem Blue Coffee)

Salah satu jenis kopi Papua yang cukup terkenal adalah Kopi Wamena atau Baliem Blue Coffee. Kopi Wamena ini merupakan kopi jenis arabika. Kopi Wamena ini biasanya berasal dari wilayah Tolikara, Lani Jaya, Intan Jaya, sampai Mamberano Tengah. Kopi ini tumbuh di ketinggian 2000 mdpl dengan suhu 13-20 derajat celcius.

2. Kopi Timika (Amungme Gold Arabica Coffee)

Jenis kopi Papua lainnya adalah Kopi Timika atau Amungme Gold Arabica Coffee. Kopi Timika ini juga dari jenis arabika dan kualitasnya sebanding dengan Kopi Wamena karena ditanam dengan ketinggian yang hamper setara. Pengolahan kopi ini tanpa tambahan bahan kimia sehingga memiliki aroma dan cita rasa yang sangat khas. Namun, Kopi Timika diproduksi dan dijual dalam jumlah yang terbatas.

 

Gerimis mulai turun perlahan membuyarkan lamunanku tentang kebun kopi di Papua. Kopi Wamenaku yang nikmat telah habis. Dahagaku belum tuntas untuk mengetahui berbagai informasi tentang ekowisata di Papua. Aku asyik berselanjar di website Econusa.  Ingin aku memesan satu cangkir lagi, namun hari sudah semakin sore. Segera ku kemasi barang-barangku untuk pulang seraya berharap besok pagi aku bias menyeruput Kopi Wamena langsung di Papua.

About Maya Nirmala Sari

Citizen Journalist. Gemar belajar dan mencoba hal baru. Mencintai bumi dan buah-buahan. Founder Komunitas Kuliner Solo (KuLo). Owner Galeri Craft @Maenequeen

Check Also

Probolinggo Bak Surga Bagi Pecinta Kuliner Rawon

Jika kamu berkunjung ke Jawa Timur, seperti ke Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dan sekitarnya Kamu akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *